Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi,
murid kesayangan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, penerus estafet
kemursyidan Romo KH. M. Romli Tamim. Dikenal juga dengan Mbah Oetsman atau Yai
Sepuh. Pendiri dan Pengasuh Awal Ponpes Darul Ubudiyyah Raudlatul Muta'allimin
Jatipurwo Semampir Surabaya. Kini pesantren ini diteruskan oleh salah seorang
putra beliau, Romo KH. M. Minanurrahman
Al-Ishaqi, yang merupakan murid dari Romo KH. Zubair ayah dari Mbah
Maimoen Zubair.
Kelahiran
dan Nasabnya
Menurut nasab yang sudah tersusun rapi di dalam
keluarga, Hadhratus Syaikh KH. Utsman al-Ishaqi adalah seorang sayyid dan
seorang habib. Sebab beliau dari jalur ibu adalah keturunan Maulana Muhammad
Ainul Yaqin atau yang biasa disebut sebagai Sunan Giri bin Maulana Ishaq
al-Husaini. Sedangkan ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati yang juga
bermarga al-Husaini. Dengan demikian Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi
adalah anak cucu Rasulullah Saw. dengan urutan yang ke-37.
Nasab beliau adalah Muhammad Utsman – Surati –
Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki
Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo –
Fadhlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri –
Maulana Ishaq – Ibrahim al-Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam –
Jamaluddin al-Akbar al-Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul
Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad –
Alawi – Ubaidillah – Ahmad al-Muhajir – Isa an-Naqib ar-Rumi – Muhammad
an-Naqib – Ali al-Uraidli – Ja’far ash-Shadiq – Muhammad al-Baqir – Ali Zainal
Abidin – Husain – Ali bin Abi Thalib/Fathimah binti Rasulullah Saw.
Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi dilahirkan
di Jatipurwo Surabaya pada hari Rabu bulan Jumadil Akhir tahun 1334 H sekitar
tahun 1915 M. setelah beliau bertapa dalam rahim sang ibunda selama 16 bulan.
Dan selama di dalam rahim ibunya beliau sering bersin, dalam bahasa Arab
disebut al-Atthas.
Beliau wafat di Rumah Sakit Islam Surabaya pada
saat Tarhim Shubuh di hari Ahad tanggal 8 Januari tahun 1984 Masehi yang
bertepatan dengan tanggal 5 Robi’uts Tsani tahun 1404 Hijriyah dan dimakamkan
di Pondok Sepuh, di Jatipurwo VII/15 Kelurahan Ujung Kecamatan Semampir.
Mengembara
Mendalami Ilmu Agama
KH. Ahmad Asrori, putra sekaligus pengganti KH.
Utsman sepeninggalnya, mengatakan bahwa ayah beliau pernah mengatakan: “Ketika
saya menginjak umur 13 tahun, mata saya melihat Ka’bah di Makkah secara sadar
dan nyata. Maka mata sayapun saya usap berkali-kali, tetapi tetap saja yang
nampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian saya berpikir, mungkin mata saya
sudah rusak. Saya pun akhirnya minta dibelikan kaca mata khusus untuk melihat.
Akan tetapi hasilnya tetap sama, Ka’bah di Makkah tetap nampak di pelupuk mata
saya.”
“Itulah awal kasyaf yang dialami oleh Hadhratus
Syaikh, dan sejak itu kata Hadhratus Syaikh: “Saya melihat orang dengan segala
kepribadiannya, ada yang menyerupai srigala, ada yang seperti truwelu, ada yang
seperti babi, seperti ayam, kucing dan lain sebagainya menurut pembawaan
nafsunya masing-masing. Tetapi saya tidak berani berkata terus terang, sebab
itu adalah rahasia seseorang.” Ujar KH. Ahmad Asrori bin Utsman al-Ishaqi.
Pada suatu hari Hadhratus Syaikh sampai larut malam
tidak pulang dari madrasah seperti biasanya pada jam 10.00 pagi, sehingga
orang-orang tua mengkhawatirkan keadaannya. Maka imam Raudhah Kyai Nur, atas
izin orang tua beliau, berangkat mencari Kyai Utsman, dan oleh karena
diberitakan bahwa Hadhratus Syaikh berada di pondok Kyai Khozin Panji, maka
Kyai Nur pun berangkat ke sana. Tetapi sesampai Kyai Nur di Siwalan Panji,
Hadhratus Syaikh sudah pindah ke pondok Kyai Munir Jambu Madura. Setelah orang
tua beliau mendengar kabar yang demikian itu, beliau mengatakan: “Tidak usah
mencari Utsman, yang penting dia sehat.”
Setelah beberapa lama tinggal di pondok, beliau
sakit keras, maka terpaksa beliau pulang ke rumah. Setelah berobat beliau
akhirnya sembuh kembali. Kemudian Hadhratus Syaikh dipondokkan ke Hadhratus
Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng.
Selanjutnya beliau dipondokkan ke Kyai Romli
Peterongan Jombang. Pada waktu itu Hadhratus Syaikh benar-benar terikat, beliau
mengatakan: “Sewaktu saya dikirim oleh orang tua saya ke pondok, sarung saya
hanya satu lembar. Apabila najis maka saya memakai tikar sebagai gantinya untuk
shalat. Dan selama saya di pondok, saya tidak pernah pulang ke rumah kecuali
badan saya sudah kurus benar. Sebab apabila saya pulang dan badan saya gemuk,
saya dimarahi oleh orang tua dan nenek. Pernah pada suatu hari saya pulang
badan saya gemuk, spontan nenek saya mengatakan: “Kalau kamu tinggal di pondok
hanya untuk makan dan minum, lebih baik tinggal di rumah saja!”
Suatu hari saat kepulangan Hadhratus Syaikh dari
pondok, beliau menyaksikan adanya hubungan-hubungan khusus yang diselenggarakan
oleh tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi setiap hari di samping musholla
depan rumah beliau.
Melihat hal yang tidak senonoh itu, akhirnya beliau
adukan kepada Kyai Romli dengan mengatakan: “Kyai, saya melihat ada mutiara di
dalam air yang keruh dan najis, apakah saya harus mengentasnya
(menyelamatkanya)?”
Kyai Romli menjawab: “Entaslah wahai Utsman! Dengan
syarat hatimu tidak berpaling kepadanya. Kalau hatimu berpaling kepadanya, maka
kamu tidak akan berjumpa denganku besok di Mahsyar.”
Maka beliaupun mengumpulkan pemuda dan pemudi yang
berjumlah 14 orang itu di rumah beliau setiap malam. Beliau ikuti
pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim itu sambil beliau masuki urusan
keagamaan mereka. Dan beliau peringatkan kepada mereka akan siksa Allah Swt.
Sampai akhirnya mereka pun bertaubat dengan taubat nasuha..
Kyai Utsman pernah diadukan oleh seorang ulama
kepada Kyai Romli karena beliau diketahui telah mengadu ayam. Mendengar
pengaduan itu Kyai Romli menjawab:“Saya tidak berani melarangnya dan Kyai tidak
usah menirunya mengadu ayam.”
Menjadi
Mursyid Thariqat
Kawan dekat Hadhratus Syaikh yang bernama KH.
Hasyim Bawean pernah bercerita: “Hadhratus Syaikh dibaiat oleh Kyai Romli pada
hari Rabu tanggal 16 Sya’ban tahun 1361 H/1941 M. Setelah beliau dibaiat selama
satu minggu beliau menyusun silsilah Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah atas
perintah Kyai Romli yang diberi nama Tsamrat al-Fikriyyah.”
Hadhratus Syaikh mengatakan: “Saya dibaiat oleh
Kyai Romli atas permintaan Kyai Romli sendiri. Pada waktu itu saya dimasukkan
ke kamar Kyai dan didudukkan di atas Burdah yang putih bersih di atas tempat
tidur Kyai dan dipinjami Tasbih. Padahal waktu itu kaki saya berlumpur karena
hujan. Karena sudah menjadi tradisi, setiap kali saya masuk ke rumah Kyai, kaki
saya pasti telanjang tanpa alas kaki. Dengan demikian sebelum saya jadi Murid
saya adalah Murad dan sebelum saya menjadi Thalib saya adalah Mathlub.”
Dalam kesempatan lain Hadhratus Syaikh mengatakan
akan menghadiri majelis khusus atau wirid khataman selama 4 tahun. “Saya terus
menerus berjalan kaki memakai klompen dari Surabaya ke Paterongan. Barulah
kadang-kadang saya naik kendaraan setelah ketahuan Kyai Hasyim Asy’ari di
Mojoagung dan beliau mengatakan: “Jangan jalan kaki terus-menerus Utsman!”
Selanjutnya Kyai Hasyim Bawean mengatakan: “Sewaktu
terjadi Perang Dunia II tahun 1942 M Hadhratus Syaikh sekeluarga pindah
sementara ke Peterongan. Kalau siang hari berada di dalam pondok. Pada suatu
hari, yakni hari Selasa, beliau disuruh menghadap Kyai Romli pada jam 2.00
malam untuk diangkat menjadi mursyid Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Hadhratus Syaikh waktu itu mengatakan: “Tidak kuat Kyai.” Tetapi Kyai Romli
tetap melaksanakan perintah Allah, kemudian mengusapkan tangannya di atas
kepala Kyai Utsman. Seketika itu pula Hadhratus Syaikh jatuh pingsan tak
sadarkan diri dan langsung jadzab.”
Selama satu minggu Hadhratus Syaikh mengalami
jadzab, beliau tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar
maupun kecil dan tidak shalat.
Setelah Hadhratus Syaikh mengalami jadzab satu
minggu, beliau berkata kepada Kyai Hasyim Bawean: “Nanti malam akan datang
tamu-tamu banyak sekali tidak perlu suguhan makanan atau minuman.” Maka pada
jam 8.00 kurang sepuluh menit malam Hadhratus Syaikh sudah siap menerima para
tamu di kamar, dan menghadap ke pintu. Tidak lama kemudian beliau mengucapkan:
“Wa’alaikumussalam, Wa’alaikumussalam”, selama kurang lebih lima menit dan
nampak seakan-akan Hadhratus Syaikh menjabat tangan orang-orang sambil
menundukkan kepala.
Kemudian beliau mengatakan: “Mulai hari ini saya
ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra. dan
Nabiyullah Khidhir As. serta oleh sejumlah masyayikh Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah. Dan sejak sekarang saya diizinkan untuk membaiat”, sambil
menyerahkan sepucuk kertas kepada Kyai Hasyim Bawean.
Kemudian Hadhratus Syaikh menghadap ke barat sekali
lagi dan mengucapkan:“Na’am, na’am.” Tepat pada jam 8.00 lebih 5 menit malam
itu, Hadhratus Syaikh berdiri menuju ke pintu. Setelah diam sejenak, beliau
mengucapkan: “Wa’alaikumussalam, wa’alaikumussalam.”
Kemudian oleh Kyai Hasyim, Hadhratus Syaikh disuruh
mandi setelah satu minggu tidak mandi. Dan ketika itulah Kyai Hasyim
cepat-cepat pergi ke Kyai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi. Setelah
menerima kertas itu, Kyai Romli spontan menemuinya di luar rumah seraya
mengatakan: “Ada apa? Ada apa? Ada apa?”
Ketika Kyai Romli membaca sepucuk kertas itu
spontan Kyai mengatakan dengan bahasa Madura yang maksudnya: “Alhamdulillah
sekarang saya punya anak yang bisa menggantikan saya (sampai 3 kali).”
Orang tua Kyai Utsman juga pernah menyatakan kepada
salah seorang habib bahwa Hadhratus Syaikh telah mendapatkan ijazah dari Syaikh
Abdul Qodir al-Jailani Ra., untuk berdakwah dan diangkat sebagai khalifahnya
tanpa perantara. Pernyataan ini disampaikan pada tahun 1947 M.
Takluknya
Sang Pengadu Ayam Kawakan di Hadapan Kyai Utsman
Pada waktu Kyai Utsman tinggal di Rejoso, ada
seorang tukang adu ayam kawakan yang sangat populer di Jombang bernama Wak Sud.
Dia memiliki jago-jago yang khusus untuk diadu. Hadhratus Syaikh tertarik untuk
menundukkan orang ini melalui adu ayam. Maka beliau membawa ayam ke Wak Sud
dengan maksud untuk mengajak bertanding adu ayam.
Atas ajakan Kyai Utsman itu Wak Sud menjawab:
“Apabila jagomu menang melawan jagoku maka semua kekayaanku adalah milikmu.
Sebaliknya apabila jagomu kalah saya tidak menuntut apa-apa darimu.”
Maka Hadhratus Syaikh menjawab: “Apabila jagomu
menang kemudian kau ambil kekayaanku, memang saya tidak mempunyai sesuatu yang
patut disebut. Dan apabila sebaliknya jagoku yang menang maka saya sama sekali
tidak butuh kepada kekayaanmu. Pokoknya begini, apabila jagoku menang kamu
harus tunduk dan patuh di bawah perintahku.” Akhirnya Wak Sud menyetujui
tawaran itu.
Dengan kuasaan Allah Swt., menanglah Hadhratus
Syaikh dalam pertandingan itu sekalipun jago miliknya kurus kecil dan lemah sekali.
Berbeda jauh dengan jago kepunyaan Wak Sud yang kekar dan gagah itu. Alhasil
Wak Sud pun harus menerima kesepakatan bersama setelah kekalahannya. Kini ia
tunduk dan patuh pada Hadhratus Syaikh KH. Utsman.
Maka saat Kyai Romli melihat Wak Sud melakukan
shalat, Kyai Romli memegang pundak Kyai Utsman dari belakang seraya mengatakan
dengan nada heran: “Apa yang kamu lakukan terhadap Wak Sud wahai Utsman,
sehingga dia mendatangi shalat Jum’at. Padahal saya tidak mampu
menundukkannya?”
Pindahnya
dari Jombang ke Ngawi dan Berpulang ke Surabaya
Di Peterongan, Hadhratus Syaikh tinggal di Desa
Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso atas saran Kyai Romli dengan maksud agar
beliau menjadi imam di Ngelunggih. Akibatnya murid-murid Kyai Romli banyak yang
pindah ke Ngelunggih untuk mendapatkan barokah dari Kyai Utsman serta ilmu dari
beliau. Akhirnya Hadhratus Syaikh disuruh pindah oleh Kyai Romli ke salah satu
desa dekat Gunung Lawu di Ngawi.
Ketika Hadhratus Syaikh sampai di lereng Gunung
Lawu, sangu (bekal) beliau tinggal Rp. 1.70 (satu rupiah tujuh puluh sen) tidak
cukup untuk membeli beras 1 liter sekalipun. Maka untuk mendapatkan rizki,
beliau setiap harinya mengunjungi pesarean (ziarah kubur) yang paling dikenal
oleh orang di desa itu. Karena beliau cinta dan hobi melakukan ziarah kubur,
akhirnya atas kemurahan Allah Swt. beliau sekeluarga mendapatkan rizki yang
tidak diduga-duga sebelumnya.
Diantara orang kampung ada yang mengundang beliau
untuk mengikuti tahlilan, adapula yang minta barokah doa, ada yang meminta fatwa,
sampai akhirnya Hadhratus Syaikh menjadi populer di desa itu dan kemudian
menjadi imam di desa itu.
Di desa barunya itu, suatu hari beliau bermimpi
berjumpa dengan gurunya, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebu Ireng,
berpamitan kepada beliau dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman.” Mimpinya
tersebut ternyata sebuah isyarat akan berpulangnya sang guru ke rahmatullah.
Karena esok harinya beliau mendengar berita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari meninggal
dunia.
Menjelang meletusnya Madiun Effer (peristiwa Madiun
pada tahun 1948 M) Kyai Utsman berkali-kali menerima surat serta saran agar
beliau pulang saja ke Surabaya karena situasi yang tidak aman lagi di daerah
itu.
Mendengar kabar pulangnya Hadhratus Syaikh KH.
Utsman ini, sebagian besar penduduk di lereng Gunung Lawu itu keberatan
ditinggalkan oleh beliau. Karena mereka masih amat memerlukan doa, ilmu serta
barokah dari beliau. Bahkan ada warga yang berjanji memberikan 20 hektar kebun
kepada Hadhratus Syaikh agar beliau sudi tetap tinggal di desa itu. Tetapi
setelah beliau melakukan istikharah akhirnya beliau menetapkan kembali ke
Surabaya.
Kyai Utsman
Al-Ishaqiy; Penggagas Haul dan Manaqiban
“Habib Utsman Surabaya,” begitu Habib Ali Bungur
menyebut kepada kyai yang kita kenal dengan KH. M. Utsman bin Nadi al-Ishaqi
Jatipurwo Surabaya. Yang merupakan murid kesayangan dari Syaikhona Kholil,
Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan Mbah Romli Tamim. Semua tokoh besar ulama
dan habaib waktu itu pasti mengenalnya, menyayanginya dan mengakui kewalian dan
keulamaannya.
Di Jombang, saat mudanya, beliau sudah dikenal
sebagai “Singa Podium”. Melanglang buana dari podium ke podium untuk memberikan
ceramah. Pernah suatu hari ia diundang untuk berceramah di Jombang. Tiba-tiba
di tengah ceramahnya sang guru datang, Mbah Romli Tamim. Demi menjaga adabnya
terhadap guru, seketika ceramah dirubahnya menjadi pertunjukan dalang.
Mendalang dipilihnya karena itu yang tidak bisa dilakukan sang guru.
Setelah sekian lama memberikan ceramah kesana
kemari, ia merasa kurang mengena manfaatnya di khalayak. Akhirnya digagaslah
kegiatan “Manaqiban” sebagaimana yang ramai dan kita kenal saat ini. Beliaulah
penggagasnya, dan Haul.
Karomah KH.
M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi
Semenjak kecil keistimewaan dan kekeramatan beliau
sudah nampak tatkala Utsman kecil sudah bisa berjalan. Beliau selalu tidak ada
di rumah setelah Maghrib, dan baru pulang setelah jam 11 malam dengan badan
yang penuh berlumuran lumpur. Kejadian itu menjadi pertanyaan sendiri oleh
keluarga. Setelah diselidiki, ternyata beliau berada di sungai didekap oleh
seekor Buaya Putih.
Setiap malamnya Utsman kecil selalu tidur di surau
(langgar) bersama sang kakek, Kyai Abdullah. Selain kakeknya, tak ada
seorangpun yang berani mendampingi Utsman kecil tidur. Karena dari kedua mata
Utsman memancarkan sinar yang terang seakan menembus Iangit bagaikan lampu
sorot.
Sejak beliau berumur 4 tahun setiap pagi pada jam
3.00 waktu Istiwa’, beliau keluar rumah menuju Masjid Jami’ Ampel Surabaya
dengan diantar oleh kakak perempuan beliau yang bernama Nyai Khadijah untuk
membaca Tarhim (panggilan shalat Fajar) sampai datang waktu Shubuh di menara
Masjid.
“Setiap kali beliau sampai di pintu gerbang Ampel,
beliau selalu disambut banyak anak-anak kecil yang memakai kopyah berwarna
putih-putih. Sesampainya di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah ke
mana dan baru muncul kembali sewaktu beliau hendak pulang dari masjid pada jam
7.00 pagi untuk mengantarkan beliau ke pintu gerbang. Dan setelah itu mereka
menghilang kembali.” Ungkap Nyai Khadijah dan Kyai Anwar.
Ketika beliau berumur 6 atau 7 tahun, pada suatu
malam nampak sang rembulan atau bintang-gemintang turun dari langit seraya
memancarkan sinarnya menuju Utsman kecil, dan mengitari beliau dari segala
arah.
Di umur 7 tahun, beliau sudah mengkhatamkan
al-Quran sebanyak 3 kali di bawah asuhan sang kakek, Kyai Abdullah. Kemudian di
usia itu beliau dikhitan (sunat). Setelah itu barulah beliau berpindah mengaji
kepada Kyai Adro’i Nyamplungan.
Semenjak mengaji kepada Kyai Adro’i, setiap beliau
pulang dari Ampel, diteruskan menuju ke Nyamplungan untuk mengaji al-Quran.
Setelah itu beliau menuju ke Madrasah Tashwirul Afkar di Gubbah untuk mengaji
ilmu agama. Dan baru pulang setelah jam 10.00 pagi. Seharinya beliau hanya
mendapatkan sangu (uang saku) sebesar 5 Sen yang berlobang tengahnya yang beliau
tempelkan di kancing baju.
Pernah selama 4 tahun, Utsman kecil tidak memakan
makanan kecuali hanya daun-daunan dan buah-buahan. Pada waktu itu beliau
menentukan untuk kebutuhan belanjanya hanya 1/2 Sen perhari. Beliau mengatakan:
“Pada waktu saya masih kecil, suatu hari saya bernafsu sekali ingin makan. Maka
sayapun makan sekenyang-kenyangnya. Tetapi sebagai dendanya saya harus
mengkhatamkan al-Quran sekali duduk.”
Dan beliau juga menceritakan: “Pada suatu hari saya
menangisi diri saya sendiri, karena ketika saya shalat teringat layang-layang,
padahal saya sudah berumur 12 tahun. Berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan
mukallaf, bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu
sholat?!”
KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai
Utsman) menceritakan, ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan
melihat Ka’bah secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap
apa yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya diusap,
bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi benar-benar terjadi
dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian Kiyai Utsman minta
dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya sudah rusak. Setelah
dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja.
Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang
dialami ayahandanya dan sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan
segala kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan
kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai Utsman tidak
berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut kerahasiaan
seseorang.
Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi,
Kiyai Utsman pernah bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan
dengan Kiyai Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada
esok harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia
(pulang kerahmatullah).
Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah
mengatakan bahwa Kiyai Zubeir Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw.
sedang menemui 2 orang laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai
Zubeir: “Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan
Utsman”.
Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan,
dalam perjalanan dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai
Kiyai Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke pondok.
Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja, tangki mobil diisi
dengan air teh tanpa gula secukupnya.”
Karena sopir itu percaya dengan kiyai, maka
perintah itu dilaksanakan dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan:
“Sudah kau isi bensin?”
“Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,”
jawab sopir.
Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya.
Dan atas izin Allah Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan
bahan bakar teh.
Mendirikan
Pesantren
Ponpes Darul Ubudiyah Raudlatul Muta'allimin
didirikan KH Muhammad Utsman Al-Ishaqi pada tahun 1957. Saat itu hanya 15
santri yang merupakan warga kampung sekitar. Baru pada tahun 1963 dengan
menempati empat kamar, santri pondok bertambah menjadi 70 orang.
"Belasan santri itu oleh Kiai Utsman diajari
ilmu fikih dengan kitab Sulam Safinah sebagai bekal untuk menjalankan ubudiyah,
termasuk rukun maupun wajibnya shalat," kata Kiai Minnanurrochman, putra
ketiga almarhum KH Muhammad Utsman.
Semasa hidupnya, Kiai Utsman amat dekat dengan
semua lapisan masyarakat. Hal itu tak lain karena sikap dan perilakunya yang
luwes dan supel kepada semua orang, termasuk orang-orang China dan non-Muslim.
Sikapnya yang santun dan menjaga perasaan orang lain membuat Kiai Utsman
disegani masyarakat, termasuk mereka-mereka yang suka minum minuman keras.
By. Budi
Sumber :
Laduni. (2
September 2019). Biografi Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi.
Diakses pada 15 Oktober 2020, dari https://www.laduni.id/post/read/64716/biografi-hadhratus-syaikh-kh-m-utsman-bin-nadi-al-ishaqi#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar