Kamis, 15 Oktober 2020

Biografi Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi

 


Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi, murid kesayangan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, penerus estafet kemursyidan Romo KH. M. Romli Tamim. Dikenal juga dengan Mbah Oetsman atau Yai Sepuh. Pendiri dan Pengasuh Awal Ponpes Darul Ubudiyyah Raudlatul Muta'allimin Jatipurwo Semampir Surabaya. Kini pesantren ini diteruskan oleh salah seorang putra beliau, Romo KH. M. Minanurrahman  Al-Ishaqi, yang merupakan murid dari Romo KH. Zubair ayah dari Mbah Maimoen Zubair.

 

Kelahiran dan Nasabnya

Menurut nasab yang sudah tersusun rapi di dalam keluarga, Hadhratus Syaikh KH. Utsman al-Ishaqi adalah seorang sayyid dan seorang habib. Sebab beliau dari jalur ibu adalah keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin atau yang biasa disebut sebagai Sunan Giri bin Maulana Ishaq al-Husaini. Sedangkan ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati yang juga bermarga al-Husaini. Dengan demikian Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi adalah anak cucu Rasulullah Saw. dengan urutan yang ke-37.

Nasab beliau adalah Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadhlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim al-Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin al-Akbar al-Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad al-Muhajir – Isa an-Naqib ar-Rumi – Muhammad an-Naqib – Ali al-Uraidli – Ja’far ash-Shadiq – Muhammad al-Baqir – Ali Zainal Abidin – Husain – Ali bin Abi Thalib/Fathimah binti Rasulullah Saw.

Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi dilahirkan di Jatipurwo Surabaya pada hari Rabu bulan Jumadil Akhir tahun 1334 H sekitar tahun 1915 M. setelah beliau bertapa dalam rahim sang ibunda selama 16 bulan. Dan selama di dalam rahim ibunya beliau sering bersin, dalam bahasa Arab disebut al-Atthas.

Beliau wafat di Rumah Sakit Islam Surabaya pada saat Tarhim Shubuh di hari Ahad tanggal 8 Januari tahun 1984 Masehi yang bertepatan dengan tanggal 5 Robi’uts Tsani tahun 1404 Hijriyah dan dimakamkan di Pondok Sepuh, di Jatipurwo VII/15 Kelurahan Ujung Kecamatan Semampir.

 

Mengembara Mendalami Ilmu Agama

KH. Ahmad Asrori, putra sekaligus pengganti KH. Utsman sepeninggalnya, mengatakan bahwa ayah beliau pernah mengatakan: “Ketika saya menginjak umur 13 tahun, mata saya melihat Ka’bah di Makkah secara sadar dan nyata. Maka mata sayapun saya usap berkali-kali, tetapi tetap saja yang nampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian saya berpikir, mungkin mata saya sudah rusak. Saya pun akhirnya minta dibelikan kaca mata khusus untuk melihat. Akan tetapi hasilnya tetap sama, Ka’bah di Makkah tetap nampak di pelupuk mata saya.”

“Itulah awal kasyaf yang dialami oleh Hadhratus Syaikh, dan sejak itu kata Hadhratus Syaikh: “Saya melihat orang dengan segala kepribadiannya, ada yang menyerupai srigala, ada yang seperti truwelu, ada yang seperti babi, seperti ayam, kucing dan lain sebagainya menurut pembawaan nafsunya masing-masing. Tetapi saya tidak berani berkata terus terang, sebab itu adalah rahasia seseorang.” Ujar KH. Ahmad Asrori bin Utsman al-Ishaqi.

Pada suatu hari Hadhratus Syaikh sampai larut malam tidak pulang dari madrasah seperti biasanya pada jam 10.00 pagi, sehingga orang-orang tua mengkhawatirkan keadaannya. Maka imam Raudhah Kyai Nur, atas izin orang tua beliau, berangkat mencari Kyai Utsman, dan oleh karena diberitakan bahwa Hadhratus Syaikh berada di pondok Kyai Khozin Panji, maka Kyai Nur pun berangkat ke sana. Tetapi sesampai Kyai Nur di Siwalan Panji, Hadhratus Syaikh sudah pindah ke pondok Kyai Munir Jambu Madura. Setelah orang tua beliau mendengar kabar yang demikian itu, beliau mengatakan: “Tidak usah mencari Utsman, yang penting dia sehat.”

Setelah beberapa lama tinggal di pondok, beliau sakit keras, maka terpaksa beliau pulang ke rumah. Setelah berobat beliau akhirnya sembuh kembali. Kemudian Hadhratus Syaikh dipondokkan ke Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng.

Selanjutnya beliau dipondokkan ke Kyai Romli Peterongan Jombang. Pada waktu itu Hadhratus Syaikh benar-benar terikat, beliau mengatakan: “Sewaktu saya dikirim oleh orang tua saya ke pondok, sarung saya hanya satu lembar. Apabila najis maka saya memakai tikar sebagai gantinya untuk shalat. Dan selama saya di pondok, saya tidak pernah pulang ke rumah kecuali badan saya sudah kurus benar. Sebab apabila saya pulang dan badan saya gemuk, saya dimarahi oleh orang tua dan nenek. Pernah pada suatu hari saya pulang badan saya gemuk, spontan nenek saya mengatakan: “Kalau kamu tinggal di pondok hanya untuk makan dan minum, lebih baik tinggal di rumah saja!”

Suatu hari saat kepulangan Hadhratus Syaikh dari pondok, beliau menyaksikan adanya hubungan-hubungan khusus yang diselenggarakan oleh tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi setiap hari di samping musholla depan rumah beliau.

Melihat hal yang tidak senonoh itu, akhirnya beliau adukan kepada Kyai Romli dengan mengatakan: “Kyai, saya melihat ada mutiara di dalam air yang keruh dan najis, apakah saya harus mengentasnya (menyelamatkanya)?”

Kyai Romli menjawab: “Entaslah wahai Utsman! Dengan syarat hatimu tidak berpaling kepadanya. Kalau hatimu berpaling kepadanya, maka kamu tidak akan berjumpa denganku besok di Mahsyar.”

Maka beliaupun mengumpulkan pemuda dan pemudi yang berjumlah 14 orang itu di rumah beliau setiap malam. Beliau ikuti pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim itu sambil beliau masuki urusan keagamaan mereka. Dan beliau peringatkan kepada mereka akan siksa Allah Swt. Sampai akhirnya mereka pun bertaubat dengan taubat nasuha..

Kyai Utsman pernah diadukan oleh seorang ulama kepada Kyai Romli karena beliau diketahui telah mengadu ayam. Mendengar pengaduan itu Kyai Romli menjawab:“Saya tidak berani melarangnya dan Kyai tidak usah menirunya mengadu ayam.”

 

Menjadi Mursyid Thariqat

Kawan dekat Hadhratus Syaikh yang bernama KH. Hasyim Bawean pernah bercerita: “Hadhratus Syaikh dibaiat oleh Kyai Romli pada hari Rabu tanggal 16 Sya’ban tahun 1361 H/1941 M. Setelah beliau dibaiat selama satu minggu beliau menyusun silsilah Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah atas perintah Kyai Romli yang diberi nama Tsamrat al-Fikriyyah.”

Hadhratus Syaikh mengatakan: “Saya dibaiat oleh Kyai Romli atas permintaan Kyai Romli sendiri. Pada waktu itu saya dimasukkan ke kamar Kyai dan didudukkan di atas Burdah yang putih bersih di atas tempat tidur Kyai dan dipinjami Tasbih. Padahal waktu itu kaki saya berlumpur karena hujan. Karena sudah menjadi tradisi, setiap kali saya masuk ke rumah Kyai, kaki saya pasti telanjang tanpa alas kaki. Dengan demikian sebelum saya jadi Murid saya adalah Murad dan sebelum saya menjadi Thalib saya adalah Mathlub.”

Dalam kesempatan lain Hadhratus Syaikh mengatakan akan menghadiri majelis khusus atau wirid khataman selama 4 tahun. “Saya terus menerus berjalan kaki memakai klompen dari Surabaya ke Paterongan. Barulah kadang-kadang saya naik kendaraan setelah ketahuan Kyai Hasyim Asy’ari di Mojoagung dan beliau mengatakan: “Jangan jalan kaki terus-menerus Utsman!”

Selanjutnya Kyai Hasyim Bawean mengatakan: “Sewaktu terjadi Perang Dunia II tahun 1942 M Hadhratus Syaikh sekeluarga pindah sementara ke Peterongan. Kalau siang hari berada di dalam pondok. Pada suatu hari, yakni hari Selasa, beliau disuruh menghadap Kyai Romli pada jam 2.00 malam untuk diangkat menjadi mursyid Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Hadhratus Syaikh waktu itu mengatakan: “Tidak kuat Kyai.” Tetapi Kyai Romli tetap melaksanakan perintah Allah, kemudian mengusapkan tangannya di atas kepala Kyai Utsman. Seketika itu pula Hadhratus Syaikh jatuh pingsan tak sadarkan diri dan langsung jadzab.”

Selama satu minggu Hadhratus Syaikh mengalami jadzab, beliau tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar maupun kecil dan tidak shalat.

 

Setelah Hadhratus Syaikh mengalami jadzab satu minggu, beliau berkata kepada Kyai Hasyim Bawean: “Nanti malam akan datang tamu-tamu banyak sekali tidak perlu suguhan makanan atau minuman.” Maka pada jam 8.00 kurang sepuluh menit malam Hadhratus Syaikh sudah siap menerima para tamu di kamar, dan menghadap ke pintu. Tidak lama kemudian beliau mengucapkan: “Wa’alaikumussalam, Wa’alaikumussalam”, selama kurang lebih lima menit dan nampak seakan-akan Hadhratus Syaikh menjabat tangan orang-orang sambil menundukkan kepala.

Kemudian beliau mengatakan: “Mulai hari ini saya ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra. dan Nabiyullah Khidhir As. serta oleh sejumlah masyayikh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dan sejak sekarang saya diizinkan untuk membaiat”, sambil menyerahkan sepucuk kertas kepada Kyai Hasyim Bawean.

Kemudian Hadhratus Syaikh menghadap ke barat sekali lagi dan mengucapkan:“Na’am, na’am.” Tepat pada jam 8.00 lebih 5 menit malam itu, Hadhratus Syaikh berdiri menuju ke pintu. Setelah diam sejenak, beliau mengucapkan: “Wa’alaikumussalam, wa’alaikumussalam.”

Kemudian oleh Kyai Hasyim, Hadhratus Syaikh disuruh mandi setelah satu minggu tidak mandi. Dan ketika itulah Kyai Hasyim cepat-cepat pergi ke Kyai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi. Setelah menerima kertas itu, Kyai Romli spontan menemuinya di luar rumah seraya mengatakan: “Ada apa? Ada apa? Ada apa?”

Ketika Kyai Romli membaca sepucuk kertas itu spontan Kyai mengatakan dengan bahasa Madura yang maksudnya: “Alhamdulillah sekarang saya punya anak yang bisa menggantikan saya (sampai 3 kali).”

Orang tua Kyai Utsman juga pernah menyatakan kepada salah seorang habib bahwa Hadhratus Syaikh telah mendapatkan ijazah dari Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra., untuk berdakwah dan diangkat sebagai khalifahnya tanpa perantara. Pernyataan ini disampaikan pada tahun 1947 M.

 

Takluknya Sang Pengadu Ayam Kawakan di Hadapan Kyai Utsman

Pada waktu Kyai Utsman tinggal di Rejoso, ada seorang tukang adu ayam kawakan yang sangat populer di Jombang bernama Wak Sud. Dia memiliki jago-jago yang khusus untuk diadu. Hadhratus Syaikh tertarik untuk menundukkan orang ini melalui adu ayam. Maka beliau membawa ayam ke Wak Sud dengan maksud untuk mengajak bertanding adu ayam.

Atas ajakan Kyai Utsman itu Wak Sud menjawab: “Apabila jagomu menang melawan jagoku maka semua kekayaanku adalah milikmu. Sebaliknya apabila jagomu kalah saya tidak menuntut apa-apa darimu.”

Maka Hadhratus Syaikh menjawab: “Apabila jagomu menang kemudian kau ambil kekayaanku, memang saya tidak mempunyai sesuatu yang patut disebut. Dan apabila sebaliknya jagoku yang menang maka saya sama sekali tidak butuh kepada kekayaanmu. Pokoknya begini, apabila jagoku menang kamu harus tunduk dan patuh di bawah perintahku.” Akhirnya Wak Sud menyetujui tawaran itu.

Dengan kuasaan Allah Swt., menanglah Hadhratus Syaikh dalam pertandingan itu sekalipun jago miliknya kurus kecil dan lemah sekali. Berbeda jauh dengan jago kepunyaan Wak Sud yang kekar dan gagah itu. Alhasil Wak Sud pun harus menerima kesepakatan bersama setelah kekalahannya. Kini ia tunduk dan patuh pada Hadhratus Syaikh KH. Utsman.

Maka saat Kyai Romli melihat Wak Sud melakukan shalat, Kyai Romli memegang pundak Kyai Utsman dari belakang seraya mengatakan dengan nada heran: “Apa yang kamu lakukan terhadap Wak Sud wahai Utsman, sehingga dia mendatangi shalat Jum’at. Padahal saya tidak mampu menundukkannya?”

 

Pindahnya dari Jombang ke Ngawi dan Berpulang ke Surabaya

Di Peterongan, Hadhratus Syaikh tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso atas saran Kyai Romli dengan maksud agar beliau menjadi imam di Ngelunggih. Akibatnya murid-murid Kyai Romli banyak yang pindah ke Ngelunggih untuk mendapatkan barokah dari Kyai Utsman serta ilmu dari beliau. Akhirnya Hadhratus Syaikh disuruh pindah oleh Kyai Romli ke salah satu desa dekat Gunung Lawu di Ngawi.

Ketika Hadhratus Syaikh sampai di lereng Gunung Lawu, sangu (bekal) beliau tinggal Rp. 1.70 (satu rupiah tujuh puluh sen) tidak cukup untuk membeli beras 1 liter sekalipun. Maka untuk mendapatkan rizki, beliau setiap harinya mengunjungi pesarean (ziarah kubur) yang paling dikenal oleh orang di desa itu. Karena beliau cinta dan hobi melakukan ziarah kubur, akhirnya atas kemurahan Allah Swt. beliau sekeluarga mendapatkan rizki yang tidak diduga-duga sebelumnya.

Diantara orang kampung ada yang mengundang beliau untuk mengikuti tahlilan, adapula yang minta barokah doa, ada yang meminta fatwa, sampai akhirnya Hadhratus Syaikh menjadi populer di desa itu dan kemudian menjadi imam di desa itu.

Di desa barunya itu, suatu hari beliau bermimpi berjumpa dengan gurunya, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebu Ireng, berpamitan kepada beliau dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman.” Mimpinya tersebut ternyata sebuah isyarat akan berpulangnya sang guru ke rahmatullah. Karena esok harinya beliau mendengar berita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari meninggal dunia.

Menjelang meletusnya Madiun Effer (peristiwa Madiun pada tahun 1948 M) Kyai Utsman berkali-kali menerima surat serta saran agar beliau pulang saja ke Surabaya karena situasi yang tidak aman lagi di daerah itu.

Mendengar kabar pulangnya Hadhratus Syaikh KH. Utsman ini, sebagian besar penduduk di lereng Gunung Lawu itu keberatan ditinggalkan oleh beliau. Karena mereka masih amat memerlukan doa, ilmu serta barokah dari beliau. Bahkan ada warga yang berjanji memberikan 20 hektar kebun kepada Hadhratus Syaikh agar beliau sudi tetap tinggal di desa itu. Tetapi setelah beliau melakukan istikharah akhirnya beliau menetapkan kembali ke Surabaya.

 

Kyai Utsman Al-Ishaqiy; Penggagas Haul dan Manaqiban

“Habib Utsman Surabaya,” begitu Habib Ali Bungur menyebut kepada kyai yang kita kenal dengan KH. M. Utsman bin Nadi al-Ishaqi Jatipurwo Surabaya. Yang merupakan murid kesayangan dari Syaikhona Kholil, Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan Mbah Romli Tamim. Semua tokoh besar ulama dan habaib waktu itu pasti mengenalnya, menyayanginya dan mengakui kewalian dan keulamaannya.

Di Jombang, saat mudanya, beliau sudah dikenal sebagai “Singa Podium”. Melanglang buana dari podium ke podium untuk memberikan ceramah. Pernah suatu hari ia diundang untuk berceramah di Jombang. Tiba-tiba di tengah ceramahnya sang guru datang, Mbah Romli Tamim. Demi menjaga adabnya terhadap guru, seketika ceramah dirubahnya menjadi pertunjukan dalang. Mendalang dipilihnya karena itu yang tidak bisa dilakukan sang guru.

Setelah sekian lama memberikan ceramah kesana kemari, ia merasa kurang mengena manfaatnya di khalayak. Akhirnya digagaslah kegiatan “Manaqiban” sebagaimana yang ramai dan kita kenal saat ini. Beliaulah penggagasnya, dan Haul.

 

Karomah KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi

Semenjak kecil keistimewaan dan kekeramatan beliau sudah nampak tatkala Utsman kecil sudah bisa berjalan. Beliau selalu tidak ada di rumah setelah Maghrib, dan baru pulang setelah jam 11 malam dengan badan yang penuh berlumuran lumpur. Kejadian itu menjadi pertanyaan sendiri oleh keluarga. Setelah diselidiki, ternyata beliau berada di sungai didekap oleh seekor Buaya Putih.

Setiap malamnya Utsman kecil selalu tidur di surau (langgar) bersama sang kakek, Kyai Abdullah. Selain kakeknya, tak ada seorangpun yang berani mendampingi Utsman kecil tidur. Karena dari kedua mata Utsman memancarkan sinar yang terang seakan menembus Iangit bagaikan lampu sorot.

Sejak beliau berumur 4 tahun setiap pagi pada jam 3.00 waktu Istiwa’, beliau keluar rumah menuju Masjid Jami’ Ampel Surabaya dengan diantar oleh kakak perempuan beliau yang bernama Nyai Khadijah untuk membaca Tarhim (panggilan shalat Fajar) sampai datang waktu Shubuh di menara Masjid.

“Setiap kali beliau sampai di pintu gerbang Ampel, beliau selalu disambut banyak anak-anak kecil yang memakai kopyah berwarna putih-putih. Sesampainya di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah ke mana dan baru muncul kembali sewaktu beliau hendak pulang dari masjid pada jam 7.00 pagi untuk mengantarkan beliau ke pintu gerbang. Dan setelah itu mereka menghilang kembali.” Ungkap Nyai Khadijah dan Kyai Anwar.

Ketika beliau berumur 6 atau 7 tahun, pada suatu malam nampak sang rembulan atau bintang-gemintang turun dari langit seraya memancarkan sinarnya menuju Utsman kecil, dan mengitari beliau dari segala arah.

Di umur 7 tahun, beliau sudah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 3 kali di bawah asuhan sang kakek, Kyai Abdullah. Kemudian di usia itu beliau dikhitan (sunat). Setelah itu barulah beliau berpindah mengaji kepada Kyai Adro’i Nyamplungan.

Semenjak mengaji kepada Kyai Adro’i, setiap beliau pulang dari Ampel, diteruskan menuju ke Nyamplungan untuk mengaji al-Quran. Setelah itu beliau menuju ke Madrasah Tashwirul Afkar di Gubbah untuk mengaji ilmu agama. Dan baru pulang setelah jam 10.00 pagi. Seharinya beliau hanya mendapatkan sangu (uang saku) sebesar 5 Sen yang berlobang tengahnya yang beliau tempelkan di kancing baju.

Pernah selama 4 tahun, Utsman kecil tidak memakan makanan kecuali hanya daun-daunan dan buah-buahan. Pada waktu itu beliau menentukan untuk kebutuhan belanjanya hanya 1/2 Sen perhari. Beliau mengatakan: “Pada waktu saya masih kecil, suatu hari saya bernafsu sekali ingin makan. Maka sayapun makan sekenyang-kenyangnya. Tetapi sebagai dendanya saya harus mengkhatamkan al-Quran sekali duduk.”

Dan beliau juga menceritakan: “Pada suatu hari saya menangisi diri saya sendiri, karena ketika saya shalat teringat layang-layang, padahal saya sudah berumur 12 tahun. Berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan mukallaf, bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu sholat?!”

KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai Utsman) menceritakan, ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian Kiyai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja.

Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut kerahasiaan seseorang.

Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi, Kiyai Utsman pernah bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan dengan Kiyai Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah).

Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiyai Zubeir Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubeir: “Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan Utsman”.

Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiyai Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke pondok. Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja, tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.”

Karena sopir itu percaya dengan kiyai, maka perintah itu dilaksanakan dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi bensin?”

“Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,” jawab sopir.

Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh.

 

Mendirikan Pesantren

Ponpes Darul Ubudiyah Raudlatul Muta'allimin didirikan KH Muhammad Utsman Al-Ishaqi pada tahun 1957. Saat itu hanya 15 santri yang merupakan warga kampung sekitar. Baru pada tahun 1963 dengan menempati empat kamar, santri pondok bertambah menjadi 70 orang.

"Belasan santri itu oleh Kiai Utsman diajari ilmu fikih dengan kitab Sulam Safinah sebagai bekal untuk menjalankan ubudiyah, termasuk rukun maupun wajibnya shalat," kata Kiai Minnanurrochman, putra ketiga almarhum KH Muhammad Utsman.

Semasa hidupnya, Kiai Utsman amat dekat dengan semua lapisan masyarakat. Hal itu tak lain karena sikap dan perilakunya yang luwes dan supel kepada semua orang, termasuk orang-orang China dan non-Muslim. Sikapnya yang santun dan menjaga perasaan orang lain membuat Kiai Utsman disegani masyarakat, termasuk mereka-mereka yang suka minum minuman keras.

 

By. Budi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :

Laduni. (2 September 2019). Biografi Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi. Diakses pada 15 Oktober 2020, dari https://www.laduni.id/post/read/64716/biografi-hadhratus-syaikh-kh-m-utsman-bin-nadi-al-ishaqi#

 

Rabu, 27 Mei 2020

Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Kiai Romly Tamim, dan Kiai Mustain Romly

https://www.nu.or.id/

Kiai Romly Tamim (wafat 1958) adalah ulama ahli ilmu tauhid dan fikih. Guru beliau, yakni Kiai Kholil Bangkalan (wafat 1925),  memintanya untuk meneruskan belajar di Pesantren Tebuireng dalam asuhan Hadratussyekh Hasyim Asy'ari (wafat 1947). Di Pesantren Tebuireng, Kiai Romly menjadi lurah pondok, dan kemudian diambil menantu.

Pada sekitar tahun 1930-an, Kiai Romly Tamim kembali pulang  ke Pesantren Rejoso yang didirikan ayahandanya, Kiai Tamim Irsyad (wafat 1930), pada 1885, untuk membina pesantren yang kemudian pada 1933 oleh masukan KH Dahlan Kholil (wafat 1958) dinamakan Pesantren Darul Ulum.

Di pesantren yang berhaluan Ahlussunah wal Jamaah dengan mengikuti mazhab empat ini, Kiai Romly Tamim diikuti oleh para muridnya dari Tebuireng, empat puluh santri senior. Beragam, ada yang dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat.

Keikutsertaan para santri senior itu karena sangat sayangnya Kiai Hasyim Asy'ari kepada Kiai Romly Tamim, sehingga saat akan  boyongan ke Rejoso, Kiai Hasyim memerintahkan 40  orang alumni senior supaya ikut ke Rejoso untuk meramaikan pondok Darul Ulum. Di antara alumni senior itu ada Gus Kholik, Gus Khozin Sidoarjo, Gus Manshur Tanggulangin, dan lainnya.

Setelah kedatangan Kiai Romly Tamim itu di Pesantren Rejoso kemudian dikenal dua kiai beda spesialisasi. Kiai Romly dikenal sebagai Kiai Rejoso, yang alim bidang akidah dan fikih. Sementara itu Kiai Kholil (wafat 1937), yang merupakan menantu Kiai Tamim Irsyad, dikenal dengan kiai thariqah.

Kiai Tamim Irsyad mengambil menantu Kiai Kholil, dengan dinikahkan dengan Nyai Fatimah, kakak dari Kiai Romly Tamim.

Sejak kiprah Kiai Kholil inilah Pesantren Rejoso memiliki babak baru, yaitu pengajian thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah.

Satu tahun sebelum kewafatannya, Kiai Kholil berharap dan mengajak agar Kiai Romly bersedia masuk thariqah. Ketika itu Kiai Romly belum berkenan. Beliau menunggu perkenan gurunya, yakni Hadratus Syekh, berupa izin dan istikharahnya. Hasilnya, Hadratussyekh menyetujui agar Kiai Romly menerima ajakan Kiai Kholil untuk memimpin thariqah di Pesantren Rejoso.

Perkenan dan kepedulian Kiai Hasyim Asy'ari atas TQN di bawah pimpinan Kiai Romly Tamim diiringi dengan pesan Hadratussyekh agar murid-murid TQN ditingkatkan pendidikan keagamaan, terutama ilmu fikih serta agar mengamalkan Ya Allah Ya Qodim.

Kiai Romly Tamim terkenal sebagai penyusun Istighosah, sebagaimana maklum kita baca dari istighasah yang dikenal masyarakat Nahdliyin bahkan Muslim Nusantara.

Jika kita gambarkan bahwa masa rintisan Thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN), di Rejoso dimulai oleh Kiai Kholil, maka pada periode Kiai Romly Tamim, adalah masa kegemilangan TQN hingga menjadi pusat thariqah di Jawa, atau setidaknya di Jawa Timur.

Kurang lebih tiga bulan menjelang kewafatan Kiai Romly Tamim, dalam pertemuan-pertemuan beliau mengemukakan bahwa thariqah akan menjadi besar dan memasyarakat apabila dipimpin oleh putranya.

Ketika Kiai Romly Tamim sakit, beliau memerintahkan dua muridnya yaitu Kiai Muhammad dan Kiai Makshum Jakfar, Porong untuk mencari Kiai Mustain Romly. Setelah datang, dengan mantap Kiai Romly Tamim mengijazah baiat Kiai Mustain Romly, berikut ini:

أجزتك وألبستك خرقة الصوفية أجازة مبايعة مطلقة

Aku berikan ijazah kepadamu dan aku berikan pakaian sufi dengan ijazah mutlak kepadamu.

Kemudian dijawab oleh Kiai Mustain Romly:

قبلت اجازتكم 

Aku terima ijazah Panjenengan

Setelah Kiai Romly Tamim wafat, Kiai Mustain Romly menjadi muryid thariqah dengan meneruskan baiat ke khalifah-khalifahnya Kiai Romly Tamim.

Setelah Kiai Mustain mendapatkan ijazah irsyad dari ayahandanya, yaitu Kiai Romly Tamim, Kiai Utsman Al-Ishaqi kemudian mentarbiyah Kiai Mustain Romly dalam  thariqah, sebagai capaian kesempurnaan kemursyidan.

Jika pada masa Kiai Romly Tamim, TQN dikenal luas oleh masyarakat pesantren, maka pada masa Kiai Mustain Romly, thariqah dikenal luas di berbagai kalangan.

Kiai Mustain wafat pada 1985 dengan meninggalkan kepemimpinan kharismatik di Pesantren Darul Ulum, kampus Universitas Darul Ulum, dan jamaah thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah.

 

Penulis: Yusuf Suharto

Editor: Abdullah Alawi












Nuonline. (28 Januari 2020). Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Kiai Romly Tamim, dan Kiai Mustain Romly. Diakses pada 28 Mei 2020, dari https://www.nu.or.id/post/read/115930/hadratussyekh-hasyim-asy-ari--kiai-romly-tamim--dan-kiai-mustain-romly



Rabu, 20 Mei 2020

Manakib KH. Ahmad Asrori Bin Utsman Al-Ishaqi r.a

http://belajarsatuayat.blogspot.com/


KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi merupakan putera dari KH. Utsman al-Ishaqi. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdirilah Pondok Pesantren al-Fithrah. Beliau adalah yang mengasuh Pondok Pesantren al-Fithrah, tepatnya di Kelurahan Kedinding Lor Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya.

 

Latar Belakang Keluarga

 

Nama al-Ishaqi dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena KH.Utsman masih keturunan Sunan Giri. Semasa hidup, KH. Utsman adalah mursyid Thari qah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, Thariqah Naqsyabandiyah dikenal sebagai thariqah memiliki penyebaran paling luas. Cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan China di belahan timur. Sepeninggal KH. Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung KH. Utsman, KH. Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan KH. Asrori berawal dari sini.

 

Nasab KH. Asrori

 

Jika dirunut, KH. Ahmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah Saw., baik dari jalur ayah maupun ibu. Dari jalur ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati, sedangkan dari jalur ibu adalah keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri. Namun catatan nasab beliau yang sudah beredar luas hanyalah yang dari jalur ibu. Berikut ini silsilahnya:

 

Ahmad Asrori al-Ishaqi bin Muhammad Utsman bin Surati binti Abdullah bin Mbah Deso bin Mbah Jarangan bin Ki Ageng Mas bin Ki Panembahan Bagus bin Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana bin Panembahan Agung Sido Mergi bin Pangeran Kawis Guo bin Fadhlullah Sido Sunan Prapen bin Ali Sumodiro bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri bin Maulana Ishaq bin Ibrahim al-Akbar bin Ali Nurul Alam bin Barakat Zainul Alam bin Jamaluddin al-Akbar al-Husain bin Ahmad Syah Jalalul Amri bin Abdullah Khan bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa an-Naqib ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib suami Fathimah az-Zahra binti Rasulullah Saw.

 

Keistimeaan KH. Asrori Nampak Sejak Muda

 

KH. Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya.

 

Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda KH. Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondoknya tak teratur, ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, KH. Mustain Romli, ia seperti memaklumi: “Biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.”

 

Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, KH. Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu laduni.

 

Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika KH. Utsman pernah berkata: “Seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.”

 

Barangkali itulah yang mendasari KH. Utsman untuk menunjuk KH. Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Thariqah Qadiriyah wa Nasyabandiyah padahal saat itu usia KH. Asrori masih relatif muda, yaitu sekitar 30 tahun.

 

Tanda-tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jamaahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski masih muda, KH. Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.

 

Meneruskan Estafet Kemursyidan dalam Usia Muda

 

Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Banyak pengikut KH. Utsman yang menolak mengakui KH. Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada KH. Sonhaji. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sikap KH. Asrori terhadap aksi tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut.

 

Ia mendirikan pesantren al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning.

 

Ia juga menggagas al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun. Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. KH. Asrori seolah menyediakan al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya.

 

Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, KH. Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.

 

Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.

 

Menuai Sukses dalam Dakwah

 

Di tangan KH. Asrori inilah jamaah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah sebagai mursyid menggantikan sang ayah, KH. Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.

 

Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid. Secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga luasnya mencapai 2,5 hektar lebih.

 

Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus. Akan tetapi KH. Asrori mencegahnya: “Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi.” Ujar beliau.

 

Di atas lahan seluas 2,5 hektar itu berdirilah Pondok Pesantren al-Fithrah dengan ratusan santri putera dan puteri dari berbagai pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri serta bangunan masjid yang cukup besar.

 

Keberhasilan KH. Asrori boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, disamping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat kepada KH. Asrori tidak lagi terbatas pada masyarakat awam yang telah berusia lanjut, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jamaahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.

 

Jamaah beliau tersebar meluas ke berbagai penjuru negeri. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya cabang al-Khidmah yang dipimpinnya seperti di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Hong Kong, Australia, dan banyak negara yang lainnya.

 

Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, KH. Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.

 

Kewafatan KH. Asrori Al-Ishaqi

 

KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi wafat pada hari Selasa, 26 Sya’ban 1430 H bertepatan dengan 18 Agustus 2009 pukul 02:20 WIB. Meninggalnya KH. Asrori sungguh mengagetkan banyak orang khususnya jamaah al-Khidmah dan warga Nahdliyin. Kepergiannya untuk menghadap Sang Khalik membuat ribuan jamaahnya merasakan duka mendalam dan meneteskan air mata.

 

Mendengar kabar kewafatan KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi, ribuan pelayat langsung mendatangi ponpes yang tidak jauh dari Jembatan Suramadu. Sejak pagi kawasan itu dipenuhi oleh pelayat. Ini berpengaruh pada akses masuk ke jalan itu. Kemacetan pun terasa di Jalan Kenjeran, Rangkah hingga ke Jalan Kedung Cowek. Polisi lalu lintas Surabaya Timur terlihat sibuk mengatur arus lalu lintas.

 

Saat dilangsungkan prosesi pemakaman di komplek pondoknya, umat Islam menyemut dan melantunkan kalimah thayyibah. Tak ketinggalan karangan duka cita dari banyak tokoh nasional, Jatim dan Surabaya dikirimkan ke rumah duka. Diantaranya karangan bunga dari Presiden SBY, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Gubernur Jatim Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol. Anton Bahrul Alam, Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono, Wakil Wali Kota Surabaya Arief Afandi, dan pejabat lainnya.

 

KH. Asrori al-Ishaqi dikenal sebagai kiai NU yang istiqamah bergerak di bidang sosial kemasyarakatan terkait peran kiai melalui kanal thariqah. KH. Asrori tak tergerus dalam gerakan kemasyarakatan di ranah politik praktis sebelum maupun pasca reformasi. Jamaah thariqah terus dibina dan digerakkan ke tataran umat dalam konteks memberikan bekal moral spiritual kepada umat Muhammad Saw.

 

Fatwa dan pandangannya sangat dihormati serta dipatuhi ummat. NU sangat kehilangan sepeninggal beliau. Dunia thariqah terus digeluti dan dijalankan dengan istiqamah. Itu salah satu amalan penting NU dan menjadi pembeda NU dengan ormas Islam lainnya.

 

KH. Asrori meninggalkan seorang istri, Hj. Sulistyowati, dan 5 anak, yakni Siera Annadia, Sefira Assalafi, Ainul Yaqien, Nurul Yaqien dan Siela Assabarina.

 

Sebelumnya, sejak 29 Juli sampai 16 Agustus 2009, KH. Asrori sempat menjalani perawatan medis di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya dan beliau juga sempat menjalani operasi dan check up di Singapura. KH. Asrori mengidap kanker dan komplikasi penyakit lainnya.

 

KH. Asori wafat dalam usia 58 tahun. Namun berdasar pengakuan salah seorang kerabat yang biasa mengurus paspor, KH. Asrori memiliki 3 paspor dengan tanggal lahir berbeda. Tapi diperkirakan KH. Asrori lahir pada tanggal 17 Agustus 1951.

 

Prosesi pemakaman KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi diwarnai adu dorong santri dan petakziyah. Mereka berebut agar bisa menyentuh keranda jenazah kiai kharimastik itu. Para panitia prosesi pemakaman kewalahan menahan aksi saling dorong antara santri dan para pelayat. Panitia meminta kepada santri dan petakziyah untuk kembali duduk sambil membacakan dzikir dan tahlil. Usai dishalati, jenazah KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi akhirnya dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren al-Fithrah.

 

Lahu al-Fatihah…

 

 

 

Sumber :

NUTerkini. (2013). MANAQIB KH. AHMAD ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI. Diakases pada 20 Mei 2020, dari http://ahsaninur.blogspot.com/2013/11/manaqib-kh-ahmad-asrori-bin-utsman-al.html